M a k k a h

Yang Semakin Megah

Ya Allah, kota ini adalah Tanah Haram-Mu

dan tempat yang aman.

Maka hindarkanlah dagingku, darahku, rambutku dan kulitku dari neraka.

Amankanlah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali hamba-hamba-Mu.

Masukkanlah aku ke dalam golongan wali-wali-Mu

dan ahli tha'at pada-Mu.

Aamin.

[Doa masuk kota Makkah]

            Makkah kini semakin megah

Gedung-gedung tinggi sedang dibangun dengan kecepatan yang luar biasa. Bahkan satu menara sudah jadi. Tingginya mencapai 601 meter. Sampai tulisan ini dibuat, berarti gedung yang diberi nama Abraj Al Bait, atau dalam bahasa inggrisnya 'The Mecca Royal Clock Tower' menjadi gedung tertinggi kedua di dunia setelah gedung Burj Khalifa, 828 meter, yang ada di Dubai. Bentuk puncaknya mirip Big Ben, alias ada jam besarnya. Ada tujuh buah menara yang menjadi bagian dari gedung tersebut. Rencananya, suara adzan yang dikumandangkan dari tempat itu akan bisa didengar hingga jarak 7km, sementara cahaya lampu dari jamnya akan memancar hingga jarak 30km.

 

 

Kabah dengan Menara Jam
Kabah dengan Menara Jam

Dan itulah yang akan dilihat oleh para jamaah haji saat nanti mereka tiba di kota Mekkah.

Teringat pengalaman umrah beberapa bulan yang lalu, saat melakukan tawaf, kita jadi harus berhati-hati.Karena bila tidak, dari ekor mata, kita akan dapat melihat kemegahan menara tersebut. Pandangan ke kiri terlihat Kabah, meleng sedikit ke kanan, akan menemukan menara itu. Apalagi bila tawafnya dilakukan malam hari, semakin jelas saja keberadaannya karena lampu-lampu yang gemerlap ditambah dengan cahaya hijau dari jamnya. Tapi tenang saja, bagaimana pun getaran yang terpancar dari Kabah jauh lebih kuat, Kabah bagai pusat gravitasi yang begitu hebat yang menarik segenap jiwa para jamaah, sehingga insya Allah, ibadah tak akan terganggu…

Semesta pun Bertawaf

 

 

Masjidil Haram..

Masjid paling mulia di muka bumi…

Aku kembali kehilangan kata-kata untuk menjelaskan betapa bergemuruhnya dada ini saat memandang bangunan masjid dihadapan. Begitu pula dengan yang lain, karena hampir semua anggota rombongan tak ada yang berkata-kata kecuali ustad yang terus memberi bimbingan. Walaupun ini bukan kali pertama aku memandangnya, tetap saja aku tidak bisa menjelaskan dengan baik apa yang dirasakan saat kembali melihat masjidil Haram.

Beserta seluruh rombongan kami melangkah memasuki gerbang satu yang diberi nama gerbang King Abdul Aziz. Saat didalam aku sudah tidak sempat memperhatikan sekeliling lagi, aku terlalu berdebar saat memasuki masjid.

Ketika pintu masuk terlewati dan berjalan beberapa langkah di dalam masjid. Tampaklah dihadapan kami semua, bangunan berbentuk kubus, yang diselimuti oleh kain sutera hitam.

Suatu bangunan yang dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Nabi Ismail. Suatu bangunan yang menjadi “rumah” paling tua di muka bumi ini. Suatu bangunan yang memiliki enam sisi sehingga seolah menghadap ke segala arah, utara, selatan, timur, barat, atas dan bawah. Suatu bangunan yang tiada apapun didalamnya, hanya ada kekosongan.

Itulah Kabah.

Kita memang tidak menyembah kabah, tidak menyembah batu hitam, tidak menyembah bangunan, Kabah hanyalah arah, Kabah hanyalah petunjuk.

Kabah saat ini berada di hadapanku.

Mataku melihat pemandangan yang menakjubkan. Seolah suatu pertunjukan tentang bagaimana alam semesta bekerja. Sebagai pusat, di sekeliling kabah penuh dengan orang yang bertawaf. Berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Bergelombang bagai pusaran air, teratur bagai orbit benda-benda angkasa pada matahari.

Inilah pertunjukan semesta!

Karena ternyata tawaf, atau gerakan berputar mengelilingi satu pusat ini juga dilakukan oleh semua mahluk, semua materi, segala hal penghuni alam semesta ini. Dari atom yang terkecil, hingga galaksi yang begitu luas. Semua terbukti melakukan tawaf, bergerak mengelilingi suatu inti.

Disini aku menyaksikan suatu pesan mengenai tauhid yang sangat jelas dari Sang Maha Pencipta, bahwa hanya ada satu pusat, hanya ada satu Tuhan, hanya ada satu Yang Maha Segalanya. Sementara yang lain hanyalah mahluk, hanyalah hamba, hanyalah ciptaan, hanyalah partikel-partikel yang terus bergerak mengelilingiNYA.

Malam itu, kami melaksanakan umrah.

Melebur bersama yang lain dalam kebersamaan. Tak ada lagi perbedaan warna kulit, jabatan, suku, golongan dan budaya. Semua menjadi satu dalam harmonisasi tawaf, semua menjadi satu dan berputar bersama mengelilingi pusat yang satu, semua menjadi satu dalam gelora cinta yang sama.

Allah adalah pusat segala hal, Allah adalah cinta yang satu, Allah adalah segalanya. Hatiku lirih berbisik -Terima kasih ya Allah, telah mengundang kami semua, dan mengijinkan kami melakukan thawaf bersama semesta-

 

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

(QS. Ali Imran:96)

Pengawalan Istimewa

[Bersujud di Hijir Ismail]

 

 

        Sama seperti Hajar Aswad yang butuh perjuangan untuk menghampirinya, begitu pula dengan Hijir Ismail. Tak mudah untuk memasuki area ini karena ukurannya yang tidak besar menjadikan kita harus berdesak-desakkan dengan jamaah lain.

        Mengapa bersusah-susah untuk masuk ke Hijir Ismail? Karena tempat ini juga termasuk tempat-tempat utama untuk berdoa (selain Multazam dan Maqam Ibrahim). Banyak riwayat yang menceritakan keistimewaannya.

Hijir Ismail saat penuh (gambar diambil dari vivanews)
Hijir Ismail saat penuh (gambar diambil dari vivanews)

      Ada pengalaman unik saat aku dan istri berusaha masuk ke Hijir Ismail. Saat tubuh semakin terdesak, tiba-tiba ada orang yang merentangkan tangan, seolah-olah melindungi kami. Begitu terus hingga akhirnya kami berhasil masuk. Tak cukup sampai disitu, 'pengawalan' terus ia lakukan saat istriku sedang melakukan sholat. Sekedar info, sholat disini benar-benar jauh dari kondisi ideal. Jangankan untuk sujud dan ruku, untuk bisa berdiri sempurna saja sudah untung. Hal ini karena begitu berdesakkan dan banyak orang yang lalu lalang. Tanpa dijaga dari dua arah, rasanya memang sulit untuk bisa sujud dengan tenang karena khawatir kepala terinjak. Beruntung ada orang tadi. Entah siapa dan dari mana, yang jelas wajahnya sangat Indonesia.

 

       Selesai istriku sholat, giliran aku yang sholat dan istriku yang akan menjaga. Tapi karena situasi yang semakin padat, aku menengok mencari tempat lain yang lebih lowong. Kalau tetap disitu rasanya mustahil untuk aku bisa sujud. Akhirnya terlihat ada tempat yang kosong, kami segera mundur beberapa langkah. Disini tempatku sholat lebih lapang dibanding tadi. Saat itulah kami tak melihat lagi orang yang tadi mengawal. Kemana? Mungkin sudah keluar lebih dulu. Entahlah.

 

 Siapapun dia, terima kasih ya Allah. Hanya Engkaulah yang mampu menggerakkan para mahlukMu...

.....

BERSAMBUNG

Help

Jakarta

Makkah/Madinah

Kurs Rupiah Terhadap:
Mata Uang
Beli
Jual
US Dollar 8.820 8.910
Saudi Riyal 2.271 2.462
Last update : 20/10/11
Click for the latest Jakarta / Soekarno-Hatta weather forecast.
Click for the latest Makkah weather forecast.
free counters

Kami menerima berbagai tulisan yang berhubungan dengan haji & umrah, baik itu berupa :

Pengalaman umrah/ haji

Info travel biro umrah/ haji

Artikel terkait lainnya

Cukup email ke :

menuju_mahacinta

@yahoo.com

Redaktur berhak untuk mengedit isi tulisan tanpa mengubah makna keseluruhan.