Kisah Para Tamu Allah

Pengalaman orang adalah pelajaran berharga dimana kita tak perlu keluar biaya untuk mendapatkan hikmahnya...

Bagi para pembaca yang memili kisah menarik selama umrah atau haji, silahkan kirim ke:

menuju_mahacinta@yahoo.com

Tak perlu dalam kalimat yang indah ataupun bagus, tulis saja yang terlintas.

Kami yang akan melakukan edit untuk tulisan tersebut.

Insya Allah akan kami tampilkan agar semua pembaca bisa ikut mengambil hikmahnya.

Terima kasih

Hikmah Tersesat Selama 3 jam di Masjidil Haram

Ditulis oleh : Gatot

 

Bismillahirrahmanirrahim, mudah-mudahan kisah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dan saya pribadi pada khususnya.

 

Ceritanya pada tanggal 18 Mei 2012, saya dan istri berdua berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umrah. Dengan perjalanan selama 9 hari dari tanggal 17 mei sampai dengan 25 mei 2012. Rute yang ditempuh adalah di Madinah selama 3 hari dan di Makah 4 hari, sisa 2 hari adalah perjalanan dari Indonesia - Saudi Arabia PP.

 

Pada saat di Madinah Al Munawarah, saya dan istri setiap shalat di Masjid Nabawi merasakan (Subhanallah) sejuk sekali hawa di sekitar masjid Nabawi ini. Ibadahpun terasa sangat khusyuk sampai-sampai tidak terasa menjelang hari ke-3 di Madinah. Saya kemudian berkata dalam hati saya, “Indah sekali beribadah disini, tapi bagaimana nanti ketika saya balik ke tanah air? Apakah nanti saya akan kembali ke habitat ibadah saya yang dulu?”. (Sebelum ke tanah suci saya lebih menyukai sholat sendiri dibanding berjamaah, saya sering menunda-nunda shalat karena urusan pekerjaan, dan terakhir sebelum ke tanah suci pula ada permasalahan di pekerjaan saya). Maka kemudian saya berdoa di dalam hati “Ya Allah berikanlah saya suatu ilmu dan kebijaksanaan yang akan memperbaiki diri saya kelak apabila kembali ke Indonesia”. Saya terus menerus berdoa seperti itu bahkan ketika dalam perjalanan dari Madinah ke Makkah. Saya ingin suasana sejuk, damai dan khusyuk yang saya rasakan di Madinah akan berlangsung terus menerus dalam hidup saya.

Singkat cerita sampailah kami di Makkah Al Mukkarramah pada hari Ahad Tanggal 20 Mei pukul 11 malam waktu setempat. Pimpinan rombongan dan ustadz pendamping bersepakat bahwa kita langsung akan melaksanakan ibadah umrah malam itu juga (setelah sebelumnya mengambil miqot di bir ali) supaya niat dan ihram kita tetap terjaga.

 

Maka setelah kita menaruh barang-barang di kamar langsung kita menunaikan ibadah umrah. Kebetulan saya beserta istri serta ada satu keluarga lagi terpisah hotelnya dengan rombongan yang lain. Kebetulan juga ketika turun dari bus tas kecil saya (berisi dompet, ID card, dan hp) tertinggal di bus sehingga disimpankan oleh ketua rombongan. Maka berangkatlah kami ke Masjidil Haram bersama-sama rombongan, kita janjian bertemu di bawah jam kecil dari pintu masuk King Abdul Aziz. Setelah semua berkumpul kita sama-sama melakukan prosesi ibadah umrah di Masjidil Haram.

 

Alhamdulillah semua proses berjalan dengan lancar dari awal sampai akhir. Waktu menunjukkan jam 3 pagi waktu setempat ketika itu, kemudian saya dan istri sepakat untuk langsung melakukan shalat sunnah di Hijir Ismail. Sampai pada saat shalat selesai saya masih melihat istri saya. Tapi saat saya hendak beranjak pergi, saat itulah saya kehilangan jejaknya sampai tiba waktu Subuh. Subhanallah

 

Selesai shalat Subuh saya berinisiatif untuk menunggu dibawah Jam Raksasa Makkah, dari selesai subuh hingga pukul 6 saya menunggu namun tidak nampak jua muka istri saya (yang pada saat itu ternyata sudah kembali ke hotel). Maka setelah menunggu itu saya berinisiatif untuk menuju hotel.

 

Perjalanan ke hotel saya lupa-lupa ingat (karena tiba semalam jam 11, sebentar kemudian langsung ke Masjidil Haram), sampai di hotel tersebut ketika mau masuk lift hotel, Subhanallah, saya lupa nomor kamar saya. Maka saya ke resepsionis hotel untuk menanyakan nomor kamar atas nama saya. Subhanallah, ternyata tidak ada kamar beratas nama saya! Kemudian saya bertanya beratas nama agen umrah tersebut / pimpinan rombongan juga tidak ada nama itu! Maka paniklah saya.

Ditengah kepanikan itu saya bolak-balik ke Hotel - Masjidil Haram, saya masuk lagi ke Masjidil Haram, tawaf, dan shalat sunnah, dengan harapan segera bertemu istri/rombongan saya, tapi ternyata setelah keluar saya mengelilingi masjidil haram kemudian hingga ke hotel lagi saya belum bertemu istri saya juga. Saya kembali menemui resepsionis, berharap bantuannya, namun ternyata saya malahan diusir. Subhanallah, kondisi saya saat itu bingung sekali cuma 2 kain ihram yang menemani (karena hp, dompet, dan ID card masih dibawa ketua rombongan). Saya sempat juga bertemu dengan rombongan lain dari Indonesia juga yang kebetulan menginap di hotel tersebut, ustadzahnya bahkan sampai membantu saya untuk menanyakan ke resepsionis tersebut (kebetulan beliau bisa berbahasa arab). Tapi lagi-lagi dibilang tidak ada. Sang resepsionis bahkan sempat berkata dalam bahasa inggris “Pray to Allah”.

 

Lemaslah saya, namun saya belum menyerah, saya teringat bahwa sebagian besar rombongan saya yang lain menginap di hotel yang melewati pasar. Maka saya tekadkanlah saya menuju arah pasar tersebut. Tapi sejurus kemudian, bingunglah saya ketika menemui jalan tersebut karena tidak nampaklah hotel tersebut ataupun salah seorang dari rombongan saya. Dengan lemas sayapun kembali lagi ke hotel.

 

Ketika kembali ke hotel saya tidak lagi menjumpai sang resepsionis, karena toh pasti akan ditolakkan kembali olehnya. Jadi saya duduk di lobby, disana saya menjumpai rombongan umrah yang tadi sempat membantu saya untuk bertanya kepada sang resepsionis. Sikap hati saya ketika itu saya sudah pasrah, nah ketika itu pula saya meminta didoakan kepada rombongan Indonesia tersebut,  “Mohon doanya supaya saya dapat bertemu istri/rombongan saya”. Oleh rombongan tersebut saya dianjurkan untuk menuju ke satu tujuan/tempat yaitu dibawah Jam Raksasa Makkah. Mereka (hampir semua berkata) “Akan kita doakan pak!” atau yang lain “InsyaAllah bertemu!”.

 

Saya seketika itu turun dari lift dan menuju jam raksasa, persis dibawah jam tersebut saya bertemu istri saya! Subhanallah, Maha Besar dan Maha Suci Allah. Perasaan haru, sedih, tegang saya bertanya kepada istri kemanakah dia selama saya hilang. Ternyata dia juga mencari-cari saya berkeliling masjidil haram, setelah mendapati diri saya tidak jua kembali ke kamar hotel. Jadi selama tiga jam tersebut, dari pukul 6 sampai pukul 8 waktu Makkah kita saling mencari-cari namun tidak bertemu, Subhanallah!

Jam raksasa di Makkah
Jam raksasa di Makkah

Saya kemudian instrospeksi diri setelah itu. Tiba-tiba saya teringat dengan doa saya selama dalam perjalanan dari Madinah ke Makkah, yaitu “Ya Allah berikanlah saya suatu ilmu dan kebijaksanaan yang akan memperbaiki diri saya kelak apabila kembali ke Indonesia”. Subhanallah saya merasa diberi ilmu Sabar dan Tawadhu (rendah hati) oleh Allah SWT secara praktek lapangan langsung. Saya baru menyadari arti kata Sabar dan Tawadhu yang sebenar-benarnya, sikap yang ketika sikap kita benar, maka pertolongan Allah SWT datang. Ternyata sikap Sabar dan Tawadhu (rendah hati) yang saya pelajari langsung itu adalah :

1.      Pasrah

Saya sudah sepenuhnya Pasrah ke Allah, menyerahkan urusan saya, saking pasrahnya sampai tidak terpikir lagi akan berbuat apa. Pasrah yang tidak lagi mengandalkan akal/fikiran, orang lain, atau hal-hal yang lain yang (tadinya) membuat saya yakin segera menemukan istri/rombongan saya.

 

2.      Minta didoakan oleh orang-orang saleh / sesama muslim

Meminta didoakan oleh rombongan tersebut, dengan sikap yang benar-benar rendah hati, yaitu sampai tidak peduli lagi bagaimana reaksi orang ketika saya minta didoakan (apakah akan mencemooh saya bodoh atau yang lain sebagainya)

 

3.      Menuju ke suatu tujuan/tempat

Kita perlu bergerak menuju suatu tujuan/tempat untuk menggapai hasil yang diinginkan. Tidak bimbang menuju ke suatu tujuan tersebut

 

Subhanallah itulah hikmah terbesar dari hilang selama 3 jam, ternyata ketika sikap hati sudah benar, maka ternyata pertolongan Allah seketika itu datang dan saya langsung bertemu istri saya. Hikmah lain yang saya dapat :

1.      Bahwa kita tidak boleh sombong dengan melupakan hal-hal kecil seperti mencatat nomor kamar, kemudian bertanya nama penginapan, janganlah pernah meninggalkan ID Card (selalu pasang di badan) karena disitu ada nomor kontak yang bisa dihubungi. Subhanallah saya juga membaca di internet mengenai hikmah hilang ataupun tersesat di Makkah, rata-rata diakibatkan oleh sikap sombong. Ada yang hilang hingga berhari-hari, bahkan ada yang hilang sedari berangkat umrah dan baru bertemu saat akan kembali ke Indonesia.

 

2.      Sikap hati tersebut harus bersama-sama ada dalam diri kita, tidak cukup salah satunya, karena sebelumnya sayapun pernah menunggu di Jam Raksasa Makkah tersebut namun tidak disertai rasa pasrah, ketika saya mencari di dalam Masjidil Haram saya sudah pasrah namun tidak meminta doa dari teman muslim yang lain.

 

Apa yang saya alami ini InsyaAllah akan selalu saya ceritakan ke orang lain, dengan harapan mudah-mudahan orang lain mendapat hikmah dari peristiwa yang saya alami ini. Aamiin Ya Rabbal ‘alamin

 

BagiNYA,

Tidak Ada yang Tidak Mungkin

 

Ini kisah salah seorang sahabat.

Pada tahun 2000, istri dari sahabat saya tersebut sangat ingin berangkat haji berdua.

Dengan kondisi keuangan mereka saat itu, keinginan tersebut bagai sebuah mimpi.

Namun demikian ia tidak memadamkan mimpi itu.

Ia mencari akal bagaimana agar keinginan itu bisa menjadi nyata.

Berpikir dengan logika semata membuatnya semakin bingung. Karena secara logika mereka tak akan bisa mendapatkan dana yang cukup.

Akhirnya ia mulai berpikir dengan logika dan keyakinan. Sahabat saya berkata pada istrinya, bahwa mereka harus menjual sesuatu karena jika menabung, mungkin butuh waktu yang lama.

Apa yang bisa dijual dan menghasilkan uang yang cukup untuk menutupi ONH?

Aset yang mereka punya adalah mobil mercy tiger.

Maka sahabat saya mengusulkan untuk menjualnya.

Usul yang sebenarnya terdengar tidak masuk akal.

Mengapa?

Karena pada tahun 2000, ongkos naik haji plus adalah sekitar USD 3000 per orang. Sementara harga pasaran mobil mereka sekitar RP. 30 juta. Jadi andai laku terjual pun, uang yang di dapat hanya bisa memberangkatkan satu orang saja. Dapat dari mana sisanya?

Tidak masuk akal bukan? Jika dipikir pakai logika maka usul tersebut sudah masuk menjadi usul yang buruk.

 

Namun, walau begitu, karena merasa satu-satunya jalan adalah dengan menjual mercy tersebut, maka ia meneruskan usahanya dan mulai menawarkan mobil itu.

Tak kenal lelah, tak kenal putus asa, terus berdoa, terus berusaha.

 

Doa dan ikhitiar…

Tidak sekedar berpangku tangan menanti uang jatuh dari langit, tapi juga ikhitiar berusaha menjemput rejeki. Sama seperti Siti Hajar yang harus menemukan air untuk bayinya.

Tidak duduk termangu, tidak hanya berdoa, tapi juga berlari dari bukit shofa ke bukit marwah.

Yakin adanya pertolongan dariNYA dan juga tak segan untuk berpeluh mengorbankan diri.

Doa dan ikhtiar…

 

Dan keajaiban pun datang.

Jawaban pun muncul.

Mercy tiger mereka laku terjual Rp. 56 juta.

Cukup untuk berangkat haji berdua dengan istrinya.

Tahun 2000, mereka berangkat haji untuk pertama kalinya.

Subhanallah…

(seperti yang diceritakan oleh Akhi kepada ruli amirullah)

Bukan cerita Empat Mata

Oleh : Novatuti

 

Apa doa yang biasa dipanjatkan para jamaah ketika berada ditanah haram?

Yang pasti mereka akan berdoa untuk keselamatan dunia dan akhirat, keberkahan untuk kaum keluarga , keturunan yang baik, kesehatan  dan ketenangan jiwa. Dan untuk para lajang yang masih belum dipertemukan dengan pasangannya mereka akan meminta untuk dipertemukan secepatnya.

Begitu juga dengan saya, ketika masih di Tanah Air pun Saya telah menyiapkan  sekumpulan doa yang akan saya panjatkan.

 

Bila saya di raudah nanti .

Di Mesjid Nabawi nanti.

Di depan multazam  nanti.

Di Jabal Rahmah nanti.

 

Karena tempat tersebut adalah sangat diijabah semua doa hamba Nya. Sebelum berangkat saya pernah ngobrol dengan seorang bapak di kantor saya. Pak, semoga pulang dari umroh nanti saya udah gak perlu pakai kacamata lagi’..

Itu benar benar doa yang sangat saya ucapkan dari hati. Karena menggunakan kacamata sepanjang hari bukanlah hal yang sangat direkomendasikan. Selain membuat pandangan mata sangat terbatas  juga terkadang membuat mata kelelahan.  Si Bapak menjawab..‘oh gampang,.. ntar sampai di sana operasi lasik aja”..

 

Waktu itu saya tertawa mendengar jawaban beliau.

Sebuah jawaban yang aneh atau komentar saya yang berlebihan.

 

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah haram, Hal pertama yang kita lakukan tiada lain selain mengucapkan Subhanallah walhamdulillah wa syukurillah. Sungguh besar nikmat Allah.  Mudah sekali Allah memberikan nikmat Nya, Ketika sebagian orang masih menunggu untuk dapat berangkat haji entah tahun berapa entah kloter berapa, saya telah dimudahkanNya untuk berkunjung  ke sini. Berziarah ke berbagai tempat bersejarah perjalanan  agama Islam.

 

Perjalanan awal dimulai dengan ziarah ke mesjid Nabawi diteruskan ke mesjid Quba.Beberapa saat saya merogoh tas saya untuk mencari si kaca mata. Tapi astagfirullah.. kacamata ku hilang.. kemudian berfikir kok bisa hilang, bagaimana dengan jarak penglihatanku nanti?

 

Peristiwa ini saya laporkan  ke Muthowwif saya yaitu orang yang memimpin kegiatan umroh ini. Sekalian minta tolong kalau kalau ketemu dengan sekotak  kacamataku yang hilang . Tak lupa aku bercerita bagaimana doaku ketika berada ditanah air dikala itu. Dan Sang Ustad sambil tertawa berkata “selamat neng, doanya diijabah disini”

 

Haduh bukan itu maksud doaku. Aku hanya ingin tidak perlu melihat dengan menggunakan kacamata lagi bukan kehilangan kacamata. Tak hentinya saya ber istigfar memohon ampunan, mungkin cara saya berdoa yang salah. Tapi please bantu saya untuk memudah kan doaku ini…

 

Setelah kegiatan ziarah dan ibadah di Madinah selesai, dilanjutkan dengan kegiatan umroh. Seluruh jamaah bergerak ke Makkah lengkap dengan menggunakan pakaian ihram. Ambil Miqot di byr Ali dan tak lupa membaca niat umroh. Ibadah nya lancar  dan seluruh jamaah bisa pulang ke hotel dengan perasaan lega.

Alhamdulillah bisa istirahat.

Dan kemudian kita meneruskan untuk beribadah di Masjidil haram selama sisa kegiatan ini. Awalnya hanya niat dengan teman sekamar untuk bisa thawaf mengelilingi kaabah ba’da Zuhur.  Oleh karena cuaca yang panas dan sangat menyilaukan, pastilah sangat membutuhkan kacamata pelindung, dan aku merogoh tas ku  untuk mencari kacamata hitam ku.

-- ilustrasi -
-- ilustrasi -

Dan Subhanallah.. hilang lagi.

 

Padahal baru saja aku kenakan ketika perjalanan dari Hotel ke Masjidil Haram tadi . Aku berusaha mencarinya tapi  jauh dalah hatiku aku sudah merasakan bahwa aku kehilangan kacamataku yang kedua.  Sedih sekali apalagi melihat ibadah thawaf yang aku jalani di tengah cuaca yang benar benar menyengat hari ini.

 

Huff

Sampai di hotel aku hanya terdiam..

Akhirnya aku hanya memiliki kacamata terakhir yang sudah aku siapkan sebelumnya. Sambil memandang kacamata itu aku berdoa lagi.. Allah please dong kacamata terakhir ini jangan hilang lagi.

 

Tapi aku merasa, kayanya jika masih ditanah Haram ini, kemungkinan kacamataku akan hilang lagi, jadi daripada kehilangan lagi lebih baik segera aku sedekahkan.

Sejenak aku memandang Teh Eny, teman sekamarku yang sangat prihatin dengan musibahku. Kemudian aku berkata Teh,, ini kacamataku disimpan ya,, daripada aku kehilangan lagi, lebih baik dikasih ke  teteh aja”

 

Beliau menerima dengan senang dan aku pun lega  karena telah menghilangkan kacamataku yang terakhir. Lengkap sudah aku kehilangan semua kacamatalku dirumah Allah ini. Hanya dengan sebuah doa sederhana yang aku ucapkan di tanah air sebelumnya. Semoga ini jalan terbaik  yang ditunjukkan Alllah. Karena meskipun aku kehilang semua penuntun mata ku. Alhamdulillah aku dapat menyelesaikan semua ibadah ku, dan tidak tersesat.

(Novatuti)

 

***

Catatan kecil dari admin:

 

Sebuah kisah untuk direnungkan. Jadi merasa diingatkan, betapa sesungguhnya Allah lah yang Maha Tahu akan segala yang terbaik untuk umatnya.

 Namun seringkali kita berpikiran lain. Terkadang, kita merasa doa kita tidak dikabulkan.

Ada pula yang merasa dikabulkan tapi ternyata tidak sesuai dengan keinginannya.

 

Mengapa ini bisa terjadi?

Apakah Allah tak mendengar doa-doa kita? Tentu tidak, karena Allah Maha Mendengar.

Apakah Allah tidak bisa mengabulkan doa-doa kita? Tentu tidak, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Apakah Allah salah mengartikan doa-doa kita? Tentu tidak, karena Allah Maha Mengetahui..

 

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

(QS. Al-Baqarah: 186).

 

Yang terjadi, mungkin kita lah yang tidak mendengar jawaban-jawabanNYA.

Mungkin kita lah yang belum melihat kekuasaan Allah.

Mungkin kita lah yang justru tidak mengerti apa-apa yang menjadi jawabanNYA…

 

Rasullulah SAW bersabda pada sebuah hadist

 

”Seorang hamba do’anya senantiasa akan dikabulkan selama tidak berdo’a untuk perbuatan dosa, atau memutuskan silaturrahim, serta selama tidak tergesa-gesa. Beliau ditanya, wahai Rasulullah apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?. Rasulullah menjawab, “Aku telah berdo’a, aku telah berdo’a, tetapi aku belum melihat do’aku dikabulkan. Lantas ia merasa kecewa dengan hal itu, sehingga ia pun tidak mau lagi berdo’a.”

(HR. Muslim).

 

Setiap doa yang kita terbangkan ke langit penuh harap, setiap doa yang lirih kita ucapkan di tengah keheningan malam, setiap doa yang dengannya air mata mengalir membersihkan pipi, akan selalu diterima oleh Allah SWT.

 

Dan Allah dengan segala kasih sayangnya, akan menjawab doa-doa hambaNYA dengan cara yang paling indah, paling tepat dan paling menakjubkan.

Allah akan memenuhi keinginan kita di saat yang tepat atau bahkan memberi kita sesuatu yang jauh lebih baik dari yang kita minta.

Karena Allah benar-benar mengetahui apa-apa yang terbaik bagi dunia maupun akhirat hambaNYA.

 

Bagi manusia , mungkin untuk memahami semuanya, terasa butuh waktu dan butuh pengertian mendalam. Tapi percayalah, semua hanya masalah waktu.

Apalagi memang, apa-apa yang terlihat secara kasat mata sebenarnya hanyalah permukaan saja. Selalu ada hikmah mendalam di setiap kejadian. Baik itu kejadian yang tampaknya menyenangkan maupun kejadian yang tampaknya tidak menyenangkan. Butuh mata hati untuk bisa melihat hikmah di balik kejadian.

 

Alhamdulillah, saudari Nova di tengah segala kehilangannya, tetap mampu melihat dunia dengan mata hati. Bahkan ia malah bisa menjadi manfaat bagi sekitar dengan memberikan kacamata terakhirnya pada orang lain.

Saat itu saudari Nova memang kehilangan kacamatanya, tapi aku rasa, ia semakin terbuka mata hatinya. (Ruli Amirullah)


WANITA TERINDAH

By : Rizali

 

Sungguh suatu pengalaman bathin yang tak akan saya lupakan sepanjang hidupku andaikata ada kata syukur yang lebih indah dari kata Alhamdulilah akan saya ucapkan sebagai pengungkapan rasa syukurku pada Allah SWT atas pengalaman yang saya dapatkan ketika melaksanakan ibadah haji bersama keluarga di tahun 2004 yang lalu.

 

                Hari itu selesai melakukan tawaf saya khusyuk berzikir bersama dengan jama'ah haji lainnya didepan pintu ka'bah sambil menunggu waktu shalat ashar. Saya juga memperhatikan betapa banyaknya jama'ah yang sedang bertawaf mengelilingi ka'bah sambil mengucapkan kalimat talbiah. Diantara ribuan jama'ah yang bertawaf tersebut ada yang menarik perhatianku, yakni serombongan wanita muda Arab yang bergamis hitam dan bercadar keluar dari lingkaran tawaf. Melihat rombongan wanita muda Arab tersebut aku teringat tentang cerita seorang temanku. Ia ingin sekali mencari wanita pendamping hidupnya setelah sekian lama terus berusaha mencari tapi selalu gagal atau kandas ditengah jalan, padahal dia  sudah mapan dan siap lahir bathin untuk menikah karena takut dosa. Lalu atas saran seorang teman dia disuruh  mendatangi salah satu pesantren di daerah pekalongandan dengan tekad dan niat bulat ia menemui kyai dan nyai pengurus pesantren tersebut. Ia  utarakan maksud dan keseriusannya  bahwa ia ingin mencari seorang istri yang barang kali ada salah satu santri dipesantren tersebut yang bersedia untuk dinikahinya. Teman saya diminta untuk kembali ke pesantren seminggu kemudian. Tepat pada waktu yang dijanjikan, ia kembali dan memperoleh jawaban bahwa ada santri beliau yang bersedia dinikahi. Namun, ia hanya diberi foto seorang wanita yang bercadar, serta nama dan binti dari santri tersebut. Juga diberi tahu bahwa Insya Allah wanita tersebut sholehah. Tapi, dasar teman saya tersebut tekad dan niatnya untuk mencari istri sudah bulat, maka ia menyetujui untuk menikahi wanita tersebut tanpa pernah berpikir lebih lanjut akan fisik wanita tersebut, ‘cantikapa tidak, ada cacat apa tidak’. Sesuatu yang (saat itu) saya pikir adalah normal bagi setiap lelaki.

wanita bercadar - ilustrasi
wanita bercadar - ilustrasi

Mengingat pengalaman teman tadi itulah, ketika rombongan wanita muda Arab yang bercadar tersebut melintas, dalam hati saya sempat terbersit "Ya kalau cantik, kalau nggak gimana ya".

 

Pikiran yang selintas, benar benar selintas. Kemudian saya kembali melanjutkan aktivitas. Saya berjalan ke bagian belakang karena merasa wudhu saya batal dan waktu shalat ashar masih agak lama. Ketika saya berjalan ke arah belakang itulah, saya merasa ada yang mengikuti. Saya pun terus saja berjalan karena menganggap itu mungkin perasaan saya aja. Tapi tanpa disadari ketika saya sampai pada tempat wudhu dibagian laki-laki, saya melihat ada seorang wanita yang juga bercadar berjalan terus kearah tempat wudhu wanita dan sepertinya memperhatikan saya. Ketika tiba giliran saya mengambil wudhu saya sempat melirik ke arah wanita tersebut yang jaraknya agak jauh. Saya melihat wanita tersebut juga sedang mengambil wudhu dan dia juga melihat kearah saya sambil membuka cadarnya dan Masya Allah, saya melihat Cahaya yang sangat indah terpancar dari wajah wanita tersebut yang Demi Allah saya belum pernah melihat kecantikan wajah wanita yang seperti ini baik dimajalah, dikoran maupun di media eletronik lainnya yang bisa memancarkan cahaya kecantikan yang sungguh luaarrrrr biasaa. Saya juga melihat  wanita tersebut menggerakkan jari telunjuk tanggannya seperti orang yang melambai. Saya hanya sempat beristigfar lalu kembali melanjutkan wudhu saya dan ketika selesai saya melihat bahwa wanita tersebut sudah tidak ada lagi di tempatnya.

 

                Dalam perjalanan kembali untuk mencari shaff yang kosong saya terus mengucapkan istigfar dan dalam hati berucap "Ya Allah mahluk apa yang engkau perlihatkan pada hamba tadi? Wajahnya terlihat memancarkan cahaya besar dan  sangat indah walaupun hamba melihatnya dari jarak yang jauh dan apa pula arti dari lambaian telunjuk tangannya?”

 

Setelah dapat shaff yang kosong saya lalu shalat taubat 2 raka'at lalu terus beristigfar memohon ampunan dari Allah. Saya sempat berpikir "Ya Allah apakah ini jawaban dari bersitan hati hamba waktu melihat rombongan wanita muda arab yang bercadar melintas waktu hamba berzikir didepan pintu multazzamMu, Engkau perlihatkan pada hamba mahlukMu yang Cantik dan Terindah serta arti dari lambaian jari telunjuknya bahwa jangan pernah perprasangka seperti itu terhadap wanita yang menjaga auratnya meskipun dengan bercadar. Hanya Engkau yang Maha Tahu Ya Allah walaupun hanya terbersit dalam hati...

Kemudian aku dalam lirih aku bedoa. Ya Allah Ampuni hambaMu ini yang telah lalai dan berdosa terhadap mahlukMu...”

(Rizali)

Merasakan Angin Surga

 

                Seorang saudaraku dan istrinya melaksanakan haji pada tahun 2008. Ada cerita menarik yang ia sampaikan mengenai Hijir ismail. Katanya, saat mereka bertawaf dan mendekati Hijir ismail, mereka merasakan adanya angin yang sangat sejuk, bahkan cenderung dingin. Mereka tidak tahu dari mana asalnya dan apakah jamaah lain ada juga yang merasakan. Herannya, angin tersebut hanya mereka rasakan saat mendekati area Hijir Ismail saja. Melihat kenyataan itu sang suami secara spontan mengatakan bahwa bisa jadi itu adalah angin surga seperti yang mereka dengar saat manasik haji. Saat manasik, mereka memang diceritakan mengenai adanya kemungkinan para jamaah bisa merasakan angin surga saat melintas dekat Hijir Ismail.

                Akhirnya mereka memutuskan untuk tak mencari tahu lebih lanjut mengenai asal usul angin tersebut. Yang penting mereka sangat mensyukuri bisa menikmati 'angin surga' yang begitu menyejukkan ditengah-tengah padatnya aktivitas tawaf.

(seperti yang ditulis oleh Muhammad Leo Tumewu dalam bukunya yang berjudul Haji – Realita Sebuah Takdir)

                Dari cerita diatas kita akan mendapatkan sebuah hikmah, bahwa sesungguhnya kejadian apapun yang menimpa pada diri kita, akan terasa lebih indah bila kita bisa melihatnya dengan mengingat kebesaranNYA. Kejadian apapun itu, bahkan 'hembusan angin sejuk' yang mungkin bagi sebagian besar orang akan dirasakan sebagai peristiwa alam biasa. Selalu ingatlah pada kebesaranNYA, pada kasih sayangNYA, pada kekuasaanNYA, maka niscaya kita akan bertemu dengan wajahNYA kemanapun kita menghadap.

 

Kisah Saudara ku dan Rokoknya

http://topnews.in/health/files/Cigarette-butts.jpg
http://topnews.in/health/files/Cigarette-butts.jpg

Ini cerita dari saudara yang pulang umrah, hobbynya adalah merokok. Tidak peduli tulisan di kemasan yang mengingatkan bahaya rokok. Baginya (dan juga jutaan perokok lainnya) rokok adalah kenikmatan yang susah untuk dilepas. Maka sewaktu umrahpun, dua pak rokok dia masukkan kedalam tas.

 

Agak maksa memang, karena di Makkah dan Madinah, merokok sebenarnya sudah menjadi barang haram. Karena itu tidak ada tempat buat melakukan aktivitas bakar membakar itu. Satu-satunya tempat mungkin hanya di kamar hotel. Tapi, karena ia tidur dengan beberapa orang yang tidak suka rokok, maka sebagai minoritas dia terpaksa menghormati kebiasaan para mayoritas. Alhasil, diapun memilih untuk berdiam diri lebih lama di dalam kamar mandi hotel. Untuk merokok tentu saja.

 

Itu rencana awal. Karena ternyata kejadian yang ada tidak bisa selalu sesuai dengan rencana awal. Ternyata sulit baginya untuk merokok. Ada aja kejadian yang membuatnya gagal atau ilfil untuk itu. Kadang ada rokok, gak ada korek. Ada korek, rokoknya gak bawa. Ada yang ngasih rokok, eh rokoknya jatuh dan basah jadi ga bisa nyala. Terus pernah seperti ini, rokok sudah ada, korek api pun siap untuk dinyalakan, tempat sudah ada, kok ya ndilalah pas dinyalain tanganya malah kebakar… huhuhuhuhu…

 

Mau merokok kok susah bener, begitu pikirnya…

 

Untung orangnya termasuk yang open minded dan gak gampang ngambek. Jadi alih-alih dia menyesali nasib dan nangis sesenggukan di toilet,  dia  lebih memilih istigfar dan mencoba untuk intropeksi diri. Kemudian malah merasa bahwa mungkin ibadah umrah yang dia lakukan tak seharusnya digabung dengan isapan rokok. Jadi, ya sudahlah.. tinggalkan rokok dulu (paling tidak untuk sementara)

 

Eh tapi lucu ya, kalo lagi di Umrah, kita pasti suka ‘membuka mata hati lebar-lebar’.

Kehilangan uang pasti mikir, dosa apa yang telah kita lakukan, setelah itu istigfar.

Kehilangan sandal, mikir kesalahan yang mungkin pernah terjadi, setelah itu istigfar.

Nyasar, langsung mikir khilaf yang pernah diperbuat, setelah itu istigfar…

Bagus deh.  Tapi biasanya, kalo dah sampe rumah, kebiasaan itu gak lanjut dah.  Mau dapet kejadian apa juga, cuek aja. Mata hati kembali ditutup. Istigfar jadi barang mahal lagi. Gimana gak mahal, mikir istigfarnya masih ntar, kapan-kapan aja pas haji atau umrah… hehehe..

 

Tapi emang susah ya.. kalo dikit-dikit istigfar, dikit-dikit tobat dan setelah itu kita berbuat salah lagi. Pasti disebut tomat alias tobat kumat. Kalo jarang istigfar dan tobat, ntar kita dianggap sombong, udah salah kagak mau minta maaf pula…

 

Jadi gimana? Yang terbaik tentu saja setelah istigafar tidak lagi mengulangi…

*Itu yang terbaik, tapi andai itu tidak bisa?*

Ah entahlah..

Yang jelas kita memang disuruh sering-sering istigfar, Nabi saja yang sudah mendapat jaminan surga masih, bahkan istigfar selalu. Apalagi aku?

(ruli amirullah)

Help

Jakarta

Makkah/Madinah

Kurs Rupiah Terhadap:
Mata Uang
Beli
Jual
US Dollar 8.820 8.910
Saudi Riyal 2.271 2.462
Last update : 20/10/11
Click for the latest Jakarta / Soekarno-Hatta weather forecast.
Click for the latest Makkah weather forecast.
free counters

Kami menerima berbagai tulisan yang berhubungan dengan haji & umrah, baik itu berupa :

Pengalaman umrah/ haji

Info travel biro umrah/ haji

Artikel terkait lainnya

Cukup email ke :

menuju_mahacinta

@yahoo.com

Redaktur berhak untuk mengedit isi tulisan tanpa mengubah makna keseluruhan.